Jim Thompson House - rumah sosialita Bangkok saat itu

Rumah milik Jim Thompson saat ini dilestarikan dengan baik dan berfungsi sebagian besar sebagai museum dan merupakan salah satu tujuan wisata 'wajib' untuk para turis yang datang ke Bangkok. Dalam area seluas sekitar 2000 meter persegi (atau 1 rai dalam ukuran thailand) saat ini kita dapat menemukan komplek rumah yang terdiri dari 6 bangunan bergaya arsitektur khas Thailand dengan modifikasi ala amerika plus restoran, galeri dan tentunya butik produk sutra Thailand khas Jim Thompson.

Jim Thompson adalah arsitek lulusan Princeton Amerika yang secara sukarela bergabung dengan angkatan darat Amerika di masa perang dunia II dan bergabung dengan unit OSS (skarang disebut CIA). Selesai masa bertugas di berbagai negara dia memilih kembali ke Bangkok untuk menetap di tahun 1946. Di sini Jim Thompson bergaul luas dengan aneka kalangan dan sering mengadakan jamuan, aneka acara kumpul-kumpul juga pertunjukan seni Thailand, terutama setelah rumah barunya selesai dibangun.

Di rumah ini, kita bisa melihat minat Jim Thompson yang sangat besar atas kebudayaan thailand dan dialah yang melihat prospek sutra Thailand sebagai bisnis yang cerah. Setiap detail bangunan direncanakan dengan apik dan setiap koleksinya juga penuh dengan nilai sejarah. Saya terkesan dengan cerita bahwa setiap bangunan rumah dikerjakan oleh tukang kayu di area luar bangkok dan berbeda-beda asalnya yang kemudian disatukan di lokasi saat ini. Walaupun bentuk rumah khas Thailand milik Jim Thompson umum ditemukan di tempat lain (di Bangkok sendiri ada beberapa tempat yang menawarkan bentuk arsitektur yang mirip) namun nilai sejarah dan modifikasi yang dia lakukan rasanya seperti makan makanan fusion karya chef kelas dunia : khas dan enak!

Lokasi yang persis di pinggir sungai kecil menjelaskan bahwa saat itu transportasi air sangat diandalkan dalam urusan bisnis maupun pelesir antar kota. Sayang sekarang sudah tidak ada lagi akses langsung ke sungai itu, kalau iya, pasti rasanya lebih unik lagi. Selain rumah, kebun dan kolam ikan menambah suasana 'homey' dan tenang. Meskipun sekarang rumah ini terletak di tengah pusat keramaian, setiap saya masuk perasaan damai langsung terasa, apalagi jika datang sangat pagi atau sore hari ketika turis sudah mulai sepi.

Selain rumah panggung ala Thailand, di sini saya juga suka duduk ngopi di cafenya. Menu di cafe-restoran Jim Thompson sebagian besar masakan thailand yang populer. Lidah saya yang sangat cerewet dalam mencoba masakan thailand akhirnya menyerah mengakui kalau makanan dan kopi di sini bikin kangen. Tapi mungkin juga karena suasana ya.. karena kalau saya ngopinya di cafe JT cabang lain (di dalam pusat perbelanjaan) rasanya juga berbeda. :))

Kalau isi dompet memadai, saya rekomendasikan untuk berbelanja di butik JT karena semua produknya sangat berkelas dan tahan lama. Memang bisa dibilang mahal kalau mengingat sutra di toko lain bisa lebih murah. Tapi desain, corak, warna dan cutting produk JT oke punya. (Inside scoop : setiap tahun JT mengadakan annual sale up to 70%, biasanya bulan Desember sebelum natal. Tentunya saya memilih shopping besar JT di periode sale ini.. hehe).

Comments

Popular posts from this blog

Aturan Imigrasi Thailand Untuk Long Term Stay

Itinerary : Kuala Lumpur - short term 3D2N or 2D1N

Siapkan ‘Amunisi’ Menghadapi Taksi di Kuala Lumpur