Nami, Korea rasa Asia Tenggara


Jadi ya, setelah lama sekali proses denial sejak tiba di Korea tahun 2012, saya pertama kali mencanangkan pergi ke Pulau Nami di tahun 2016. Butuh waktu 4 tahun untuk ikut gerakan mainstream berbondong-bondong ke Namiseom ini. Bukan apa-apa, selain Seoul dan Jeju, Nami bisa jadi tujuan wisata yang masuk dalam prioritas turis asal Indonesia. Dan sebagai turis abal-abal, saya nggak pengen ikut-ikutan ke Nami..hahaha.. sebenernya mungkin karena bukan penonton Winter Sonata sih. Masih ada destinasi yang terinspirasi dari k-drama lainnya yang masuk di daftar lebih atas.

Kedatangan ke Namiseom pertama saya merupakan bagian dari Early Spring Road Trip bareng JED yang bagi kami fenomenal itu. Kisahnya ada di sini .

Karena TERNYATA saya agak terkesan, maka pas nyokap plus Hirzi (ponakan) datengin kami Februari ini, Namiseom masuk dalam itinerary perjalanan. Toh hanya pulang hari dari Seoul. Dan ibu saya ini suka diajak jalan kemana aja. Apalagi yang mainstream. Jadi dia bisa merasa menjadi bagian dari suatu gerakan massal. halah.

Pertimbangan lain kenapa mau ke Nami, karena pengelola pulau ini tahu banget mengambil hati pelancong Asia Tenggara dan yang muslim. Mereka punya resto enak yang halal berisi masakan Asia Tenggara, ada tempat sholat, banyak spot foto-foto dan di sana-sini ada landmark yang menuliskan berbagai negara. Pengunjung jadi berasa disambut gitu kan. Jadi jangan heran kalo di sepanjang jalan kala di Namiseom, kita denger bahasa Indonesia, bahasa Melayu, Thailand, Vietnam.. malah jarang banget denger bahasa Korea.


Ada apa di Nami sih?



Pastinya ada beberapa titik yang ditandai sebagai tempat bersejarah lokasi syuting Winter Sonata. Drama Korea yang luar biasa gaungnya, berdampak pada peningkatan pariwisata Korea, salah satunya ke Namiseom ini.


Pohon langsing tinggi itu juga icon Namiseom, alias tempat wajib foto.


Selain itu ada kereta, railbike, sepeda (ontel maupun listrik untuk disewa, kecuali saat winter), ada berbagai art sculpture, museum musik, studio TV, art workshop, taman, danau, resto, perpustakaan, hingga hotel yang dilengkapi kolam renang. Besar dong tempatnya? Nope. Not really. Untuk yang nggak biasa olahraga pun, mengitari pulau ini tidak terasa lelah kok.

Di luar hal fisik yang kita temui di Nami, ada satu hal yang saya salut banget dengan pengelola. Bagaimana mreka menciptakan branding yang oke. Namiseom menyebut dirinya Naminara (negara nami). Pintu masuknya disebut immigration. Tiketnya disebut visa. Dan menuju pulau, kita memang naik kapal yang dihiasi bendera negara-negara di dunia. Serasa mau dateng ke negara baru beneran.

Di 'negara' itu, di 2 kesempatan yang saya miliki, terasa kental suasana asia tenggaranya, sebab turis dari Thailand, Vietnam, Malaysia dan tentunya Indonesia, mendominasi. Hampir jarang saya temui turis dari negara barat. Selain turis mancanegara, Nami juga disukai turis domestik. Entah rombongan para kakek nenek atau tempat pacaran. :)



Saya nggak keberatan ke Nami lagi, mungkin masih belum bosen 1-2 kali lagi lah. Sebab ada sudut2 yang belum sempet difoto.




perpustakaan anak





Untuk yang mau ke sini, opsinya antara lain :
1. Shuttle bus. Bisnya berangkat dari Tapgol Park/Insadong atau Namdaemun. meskipun bisa beli tiket di Pak Supir, tapi sebaiknya buking dulu. Takutnya seatnya habis.
Berangkat dari Seoul 9.30pagi. Meninggalkan Namiseom 4 sore.
Detilnya bisa lihat di foto ini.



2. Naik Kereta, jurusan Gapyeong. Cocok untuk yang nggak mau terikat jadwal bis, plus biaya lebih murah (asumsi di gapyeong tidak naik taksi.. hehe)>
Bisa dari stasiun Yongsan langsung ke Gapyeong st (60mins) ataupun Cheongyangni (42mins).
Atau nyambung dengan Gyeongchun line (lebih murah), menuju Chuncheon. lalu nyambung Chuncheon - gapyeong.
Dari stasiun Gapyeong, nami island 2 km lagi, bisa jalan, naksi ataupun naik bis.

3. Ikut Tour. Aneka tour menyediakan day trip ke Nami, bahkan dikombinasi dengan lokasi wisata lain seperti petite france atau garden of the morning calm.
Biayanya sekitar 35ribu won hingga 50ribu won per orang.








Comments

Popular posts from this blog

Aturan Imigrasi Thailand Untuk Long Term Stay

Itinerary : Kuala Lumpur - short term 3D2N or 2D1N

Siapkan ‘Amunisi’ Menghadapi Taksi di Kuala Lumpur