Seoul Series : Berakhir Pekan dengan Hanok Stay di Bukchon Village - Seoul

Sudah cukup lama saya naksir Hanok. Hanok adalah rumah tradisional Korea yang dibangun dengan filosofi yang kaya. Mulai dari bentuk, sistem tata udara hingga pembagian ruangannya. Di tempat saya tinggal sudah mulai jarang menemukan rumah dengan bentuk tradisional apalagi yang komplit ala Hanok asli. Walaupun hampir setiap rumah bahkan apartemen di korea hingga hari ini masih mengandalkan sistem tata udara ‘ondol’ yang mereka banggakan itu. Berhubung kali ini saya berkesempatan travellling tanpa anak, rasanya cukup tepat untuk survey Hanok stay ini buat pilihan liburan keluarga :)


Hanok stay merupakan salah satu bentuk wisata yang dijual Korea Travel Organization. Salah satu yang paling terkenal dan dijamin asli adalah Hanok Stay di Andong Village. Bahkan Ratu Inggris Elizabeth II merayakan ulangtahunnya di tempat terpencil ini! Namun karena keterbatasan waktu dan dana maka saya mencari Hanok stay yang lebih komersil saja. Hingga saya bertemu informasi sebuah area di Seoul berjudul Bukchon yang masih melestarikan Hanok. Wah, seru juga. Bisa mencoba Hanok stay tapi sekalian jalan-jalan di Seoul. Hore!


Pemandangan kota Seoul (N Tower) dari Bukchon Village


Bukchon Village terletak sangat strategis di pusat kota Seoul tepatnya diantara 2 istana utama kota itu yaitu Gyeongbokgung dan Changdeokgung. Stasiun subway terdekat adalah Anguk dan distriknya disebut Jongno-gu. Luasnya relatif memadai untuk dijelajah jalan kaki saja. Apalagi banyak jalan yang kecil-kecil, jadi memang bermobil tidak terlalu disarankan untuk menikmati area ini.


Saya mencoba membuat reservasi pada beberapa penginapan Hanok di kampung Bukchon ini karena pada akhir minggu biasanya penuh. Saya tentunya bukan satu-satunya orang yang berminat mencoba menginap di Hanok ala Bukchon. Setelah menimbang harga, lokasi, kondisi dan sejarah setiap Hanok, serta mendapati beberapa penginapan menolak permintaan saya karena full-book, saya berhasil mendapatkan kamar di Bukchon Guest House dengan harga 50ribu won untuk kamar single dengan kamar mandi umum. Harga ini termasuk menengah karena di tempat lain ada yang menawarkan 35 ribu saja. Namun beberapa Hanok lain yang lebih eksklusif hanya menerima reservasi per rumah untuk diisi maksimal sekian orang dengan harga ratusan hingga sejuta won.



suasana Bukchon Guest House


Bukchon Guesthouse yang saya tempati merupakan rumah asli pelukis dari jaman dinasti Joseon dan dimiliki oleh Baeryoem (1911-1968) yang kemudian diambil alih pemerintah sebagai salah satu rumah peninggalan sejarah. Namun untuk pengelolaannya diserahkan kepada keluarga yang saya pun tidak jelas apakah mereka masih keturunan pemilik asli atau bukan.

Karena merupakan rumah seorang seniman pada jamannya, rasa ‘nyeni’ cukup terasa pada banyak detail rumah ini. Kamar single saya cukup luas untuk tidur lasak dan cukupan fasilitasnya. Saat browsing saya tahu ada beberapa rumah lain yang lebih cantik tapi harga sewanya pun lebih tinggi.

Secara umum, tinggal di Hanok berarti akan tidur di lantai karena begitulah orang Korea aslinya tidur dan beraktivitas. Bahkan hingga hari ini masih banyak keluarga Korea yang memilih duduk di lantai untuk makan, nonton tivi hingga memasak. Tempat tidur maupun meja makan merupakan pengaruh budaya barat yang tidak diadaptasi secara menyeluruh oleh warga Korea modern. Bagi saya, tidur di lantai tetap nikmat bila alas tidurnya nyaman. Sehingga menginap di Hanok tidak berarti badan linu-linu akibat tidak terbiasa. Keluhan seperti ini terkadang tercetus dari pelancong Eropa maupun Amerika yang terbiasa tidur ‘tinggi’ dari lantai.

Mendekatkan tubuh bahkan menyentuhkan tubuh di lantai juga memiliki fungsi lain yaitu menghangatkan/mendinginkan tubuh. Seperti sudah dibilang sebelumnya, Korea memiliki sistem tata udara bernama ‘On Dol’. Setiap rumah dibangun dengan celah antara lantai dengan tanah. Di celah tersebut dipasang pipa-pipa penyalur air. Pada musim dingin akan disalurkan air panas dan sebaliknya pada musim panas dialirkan air dingin. Suhu dari lantai berevaporasi ke seluruh ruangan yang membuat temperatur ruangan nyaman bagi tubuh. Jika terlalu dingin atau panas, kita tinggal mematikan keran yang menyalurkan air pada pipa. Sederhana ya!

Hal lain yang harus dibiasakan saat tinggal di Korea terutama di Hanok adalah kedisiplinan mengganti alas kaki. Setiap ruangan memiliki alas kaki berbeda. Secara umum ada alas kaki untuk luar ruangan, dalam ruangan dan kamar mandi. Rumah Hanok berbentuk rumah panggung alias berjarak antara lantai dengan tanah. Sehingga saya harus membiasakan diri untuk melepas sepatu di luar untuk berganti dengan sandal dalam kamar. Ketika ke kamar mandi, sandal dalam kamar saya ganti dengan sandal luar ruang untuk kemudian diganti lagi dengan sandal bahan plastik saat di dalam kamar mandi. Ribet ya? Tapi sisi baiknya, seluruh rumah terjaga kebersihannya. Tanah tidak masuk kamar sementara air tidak bercecer di luar.

Bukchon Village buat saya sangat romantis. Seperti Korea pada umumnya yang berbukit-bukit, Bukchon Village pun begitu. Di brosur wisata Bukchon bahkan dinyatakan ada 8 titik dengan pemandangan cakep. Tidak semuanya menurut saya romantis. Tapi yang paling keren memang area Gahoe-dong. Mungkin itu juga kenapa K-drama populer Personal Taste mengambil lokasi syuting utama di Gahoe-dong ini. Bagi penggemar Lee Min Ho tentu familiar dengan rumah Sanggojae. Rumah di salah satu sudut Bukchon Village ini cukup sering dicari dan dijadikan obyek foto. Namun karena ini adalah rumah pribadi maka tidak terbuka untuk umum. Sayang sekali.

Sanggojae - berharap merasakan lee Min Ho ahaha


Selain suasana pemukiman yang terasa elite namun bersahaja di sini juga terdapat setidaknya 20 rumah yang menawarkan aneka workshop. Mulai dari tempat belajar aneka karya seni tradisional Korea hingga galeri seni. Beberapa yang menarik perhatian saya adalah museum kreasi Burung Hantu, workshop kayu khusus pintu rumah dan kerajinan kertas. Ya, kertas! Sepertinya kertas merupakan medium yang penting bagi tradisi Korea. Teknik membuat kertas hingga lapisan kertas pada bangunan rumah menjadi perhatian hingga bagian yang detil. Ada satu lagi yang unik di sini adalah museum Kokdu, yaitu boneka kayu yang dianggap sebagai malaikat pelindung. Biasanya peti mati dihiasi berbagai Kokdu. Kokdu juga dapat berbentuk manusia dan hewan dengan aneka pose.



inside Kokdu Museum



penjelasan Kokdu

rumah bertanda ini biasanya termasuk dalam daftar Heritage

ssh... jangan berisik
Rumah-rumah di Bukchon Village ini terlihat memiliki keseragaman dalam detil dinding batu, penempatan pintu dan bentuk atap. Setiap bangunannya sendiri terbuat dari materi batu, kayu dan kertas. Umumnya memiliki ruangan terbuka di bagian tengah rumah yang lansekap tamannya khas Korea. Saat saya bangun pagi, bikin kopi dan duduk manis di depan kamar memandangi taman kecil ini, rasanya damai sekali.

bagian tengah rumah Hanok

mencoba Hanbok dan teh Korea

2 hari 1 malam menghabiskan waktu di Bukchon Village rasanya sih cukup untuk mengisi ulang energi dengan suasana damai tanpa harus menyendiri jauh dari hiruk pikuk kota. Kita bisa mengisi waktu dengan mengikuti berbagai workshop yang tersebar di wilayah ini, main ke galeri maupun museum, ngeteh ala korea, mencoba membuat kimchi ataupun berpose ala ratu dengan pakaian hanbok lengkap atau sekedar melamun mencari inspirasi sambil memandangi taman tengah di dalam Hanok.

Comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aturan Imigrasi Thailand Untuk Long Term Stay

Mendarat di Bandara Luar Negeri Tanpa Bingung

Itinerary : Kuala Lumpur - short term 3D2N or 2D1N