Seoul Series Intro: Menjelajah Setiap Sudut Kota


Di awal tahun ini kayaknya seru untuk mengupas kota Seoul per-area. Kota dengan populasi belasan juta ini tentunya menawarkan beragam hal, minat orang kan beda-beda yak? Bisa gila suami saya kalau diajak ke Dongdaemun misalnya, sebab area itu didominasi dengan penjual grosiran terutama pakaian. Tapi teman saya yang punya toko di ITC mungkin betah ngukur jalanan di Dongdaemun sampai toko-toko di sana tutup jam 5 pagi.

Tapi meskipun sama-sama pasar, Pak Suami nggak keberatan diajak ke Namdaemun, karena di sana ada deretan toko penjual kamera dan aksesorisnya. Mulai dari barang baru hingga versi lama. 

Sekedar gambaran, buat saya Seoul secara garis besar terbagi 2 : atas/utara sungai dan bawah/selatan sungai. Sungai yang dimaksud adalah Sungai Han, alias Han River alias Han Gang. 
Seperti banyak kota yang dibelah oleh sungai, kehidupan di utara dan selatannya terasa berbeda. Untuk kota Seoul, bagian utara kental dengan sejarah sementara bagian selatan kental dengan modernisasi. Rasanya, awal denyut kehidupan di Seoul berawal dari sisi utara ini, lalu merambah ke selatan.

Pembagian wilayah Seoul. Photo by Yeha Tour

Sebuah 'gu' sepertinya sih setara satu kotamadya kalau pakai standar Indonesia. Kalau kecamatan kok ya rasanya banyak 'gu' yang luas begitu.

Dan untuk first time turis, akan banyak berkutat di Jongno-gu, Jung-gu, Yongsan-gu dan terjauh Gangnam-gu, efek Psy yang saya rasa nggak akan pernah pudar.

Yang terkenal banget tentunya Jongno-gu, lokasi istana terbesar : Gyeongbok-gung ('gung' = istana). Saya bisa membayangkan pada saat itu, yang dimaksud ibukota dinasti Joseon adalah Jongno-gu ini.
Sebelum dinasti Joseon, ibukota kerajaan ada di Kaesong, yang hari ini termasuk area Korea Utara.

 Tahun itu, menjelang 1400, Seoul juga disebut sebagai Hanseong yang kurang lebih artinya kota yang terlindungi oleh benteng di (dekat) sungai Han. Konon benteng yang mengelilingi Hanseong dibangun untuk melindungi warga dari serangan binatang liar maupun pencuri. Sebagai catatan, Seoul juga punya nama lain yang mungkin lebih populer yaitu Hanyang.

Beberapa bagian dari benteng masih dilestarikan. Gerbangnya pun masih bisa ditemui di lokasi-lokasi tertentu. Dan tidak heran, pasar yang hingga sekarang masih beroperasi ada di dekat gerbang benteng. Yang pernah dan akan ke korea mungkin familiar dengan Namdaemun dan Dongdaemun. Di 2 lokasi itu, kita masih bisa foto berlatar Sungnyemun (Gerbang selatan - Namdaemun) maupun Heunginjimun (Gerbang timur - Dongdaemun). Kedua gerbang ini sempat diruntuhkan namun dibangun kembali di titik yang sama.

Sungnyemun difoto dari dalam taksi menuju Seoul Station
Di 2 tempat itu pula turis akan hunting aneka barang hehehe.. Tapi harap diingat, hanya Dongdaemun yang buka sampai subuh ya.

Tapi kalau pak suami pasti memilih 'main' ke Namdaemun karena nggak jauh dari Sungnyemun ada deretan toko kamera. Sementara saya berasa gila setiap masuk gang-gang di Namdaemun, entah kenapa. Mungkin terlalu beragam, terlalu sesak, terlalu ramai, atau terlalu sedih karena tidak semurah bayangan saya... hahaha..








Heunginjimun at night
Di kedatangan terakhir saya lumayan sempat untuk menanjak ke bukit mendekati reruntuhan benteng dekat Dongdaemun. Meskipun malam hari, tapi nggak terasa serem atau ngeri. Di atas juga ada beberapa bangku untuk duduk bengong (atau pacaran mungkin?) sambil memandang Heunginjimun. Senangnya ada lampu-lampu yang membuat suasana malam selalu nikmat.

Seoul adalah kota yang menarik. Selalu ada cerita di sana. No wonder people wish
to come and hoping to return. Just like me.









Comments

Popular posts from this blog

Aturan Imigrasi Thailand Untuk Long Term Stay

Free Visa ke Korea Limited Time

Itinerary : Kuala Lumpur - short term 3D2N or 2D1N