Tisu vs Air dan printilan lainnya

Banyak teman yg komentar pada saya 'enak ya pindah-pindah tinggalnya. Di luar negeri lagi.' padahal apapun itu pasti ada enak dan tidaknya. Pindah-pindah terlihat enak karena berarti kita (dipaksa) jalan-jalan. Tapi kesenangan itu juga perlu 'perjuangan' loh. Diluar masalah keriuhan mengepak rumah, mencari tempat tinggal-sekolah-dan mempelajari kota baru (lagi), ada hal-hal kecil yg luput dr perhatian saya sebelum menjalani hidup nomaden begini. 

Yang paling jelas adaptasi tentang makanan. Karena berpindah jauh dr akar saya, hobi jajan terpaksa di rem. sebab kalau mau jajan ala kampung halaman pasti mahal! Mencoba masak sendiri berarti kerepotannya berlipat. Pertama mencari resep. Lalu belajar masak. Belum lagi hunting bahannya. Yg akhirnya juga tidak murah. Makan waktu dan tentunya uang. Yg lebih apes belum tentu juga makanan yg dimasak enak! 
Namun memang sejak merantau, saya jadi lebi pede bermain main di dapur. Dan mulai pede juga mengundang teman utk makan ke rumah atau mengantar makanan.

Adaptasi berikutnya adalah berkemih tanpa air. Saat di jakarta dulu, saya termasuk yang berkomentar heran, bagaimana ya kok para bule itu tahan hanya menggunakan tisu setelah buang hajat? Di negara luar asia, bebersih dengan air ataupun spray toilet tidak pernah saya temukan. Apalagi akomodasi saya selalu sewaan, jadi sulit untuk memasang spray di toilet. Kamar mandi mereka juga seringkali kering2 saja. Belum lagi gayung adalah barang langka. Kami menyiasatinya dengan aneka trik. Ember dan gayung pernah menjadi aksesoris wajib minimal di salah satu kamar mandi. Namun sekarang karena banyak kamar mandi 'kering', kami mulai nyaman pakai tisu basah (atau dibasahi). 

Tanpa diduga sebelumnya, cara mencuci piring (manual) pun berbeda. Seorang teman yang pernah tinggal lama di Indonesia ceritanya berniat membantu mencuci piring setelah makan bareng (budaya yg lazim ditemui). Lalu dia bertanya, kamu biasanya cuci cara indonesia atau tidak? Rupanya yang dia maksud cara indonesia yaitu disiapkan air sabun dalam wadah kecil. Lalu piring di sabun satu persatu sebelum dibilas di air mengalir. Sementara cara yg bukan indonesia (atau cara dia?) yaitu bak cuci piring disumbat dan disiapkan air sabun hangat untuk merendam piring. Setelahnya baru piring dibilas. Saya selalu menemukan bak cuci 2 lubang di luar negeri. Cara lain yang lebih praktis menggunakan dishwasher. 

Kebiasaan lain yang saya adaptasi (dengan terpaksa) dari teman2 di luar negeri adalah tidak menyeterika baju! Selama di Indonesia, menyeterika adalah hal wajib. Bahkan tetangga ibu saya sampai pakai pembantu khusus seterika. Dikeluarga saya, kaos kaki, pakaian dalam, sprei bahkan handuk pun di seterika, apalagi baju. Menyetrika bukan pekerjaan kesukaan saya, saya sering mengeluh soal ini. Hingga suatu hari sekelompok ibu di Australia bilang kalau saya kurang kerjaan. Rupanya mereka pakai trik, setelah dari mesin pengering baju segera dilipat. Karen ada bahan tertentu yg tidak mempan rapi dgn cara ini, saat berbelanja mreka sudah mempertimbangkan faktor setrika ini. Barulah saya sadar kenapa merk kemeja tertentu bahkan menambahkan label 'non-iron' atau 'easy-care'. 

Kebiasaan mandi juga terkena efeknya. Pada musim dingin kita jarang berkeringat. Karena dingin pun, kita pasti maunya mandi air hangat yang justru menambah kering pada kulit. Anak2 di australia dan inggris seringkali tidak mandi pagi terutama saat musim dingin. Mereka baru sering mandi saat musim panas.  Akhirnya kalau saya sangat sibuk atau cuaca memang dingin sekali, sesekali kami hanya mandi 1x sehari. Pagi atau malam. Jadwal mandi pun berbeda. Kalau sebelumnya saya paling tidak membolehkan anak mandi malam, sekarang mandi sebelum tidur justru terasa lumrah. 

Inilah efek yang paling dahsyat dari urusan pindahan. Dengan 3 anak balita, bertahan hidup tanpa bantuan asisten. Awalnya melelahkan! Walaupun beberapa negara lain ternyata memiliki budaya berasisten rumah tangga (baik yang menginap atau pulang hari), banyak juga negara lain yang tidak. Mereka tidak punya jenis visa khusus untuk domestic worker. Kalaupun ada, seperti Inggris, biaya mendatangkan dan memperoleh izinnya juga tidak murah. 

Masih ada sih hal kecil lainnya yg tak terduga sebelum kami pindahan. Resep mujarab untuk menikmati hidup nomaden ternyata adalah ikhlas untuk beradaptasi bahkan kalau dibutuhkan kita juga perlu merubah kebiasaan.

KLCC Park,
Juni 2012

Comments

  1. Posting ini ngejawab penasaran saya sama serial TV F.R.I.E.N.D.S dan gaya hidup bule disini yang mereka bilang "hidup bersih". Very inspiring. Two thumbs up!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aturan Imigrasi Thailand Untuk Long Term Stay

Free Visa ke Korea Limited Time

Itinerary : Kuala Lumpur - short term 3D2N or 2D1N