'Ngintip' Australia SEXPO 2011

One’s sexual life pretty much affected by his/her history. How the culture brought them up develop a belief that sometimes misleading. Sexuality is coming from our brain. It links but can be disconnected, sometimes by choice. Having a healthy sexual life means being honest to one’s being while use the brain wisely. (summary, SEXPO Perth 2011)

Tidak terbayangkan sebelumnya saya akan masuk ke dalam Perth Convention Center untuk mengetahui event terkini mereka bertajuk Sexual Lifestyle Expo SENDIRI. Hal-hal seru dan baru seperti ini akan lebih menarik untuk dibagi dengan teman dekat juga pasangan. Sekedar lucu-lucuan tapi siapa tahu ada yang memang berguna. Sayangnya, saya terlambat tahu acara ini sehingga tidak sempat mencari teman. Suamipun sedang malas jalan-jalan, jadilah saya berbagi dengan rekan kompasianer saja di sini.





Rupanya ini adalah agenda tahunan dimana agenda dan exhibitornya pun beragam. Dari buku program diketahui tahun ini terdapat 204 stand yang diisi hampir 150 exhibitor. Saat saya berkeliling terlihat bahwa ada kesamaan pada sebagian besar exhibitor yaitu pemasar alat-alat perangsang seksual, pakaian dalam seksi dan kostum (suster, pelayan, etc). Lalu terselip beberapa penyedia jasa studio foto profesional yang hasil kerjanya bagus sekali (dari contoh yang ada di stand-nya). Jauh dari kesan esek-esek dan berseni. Ada juga exhibitor dari kelompok fetish SDMS (sadomasochist). Cukup mencengangkan bagi saya mengingat pengertian SDMS masih merupakan penyimpangan seksual pada beberapa literatur, namun terlihat biasa saja digelar di publik bahkan ada asosiasinya.



Selain itu ada exhibitor berupa klinik bedah untuk memperbaiki anatomi tubuh (umumnya payudara dan kemaluan) serta klinik seksologi untuk konsultasi. Yang juga menarik dan lucu sebenarnya adalah stand Hunk Mania. Yaitu pria-pria cakep dengan badan bagus dan senyum manis menyediakan layanan by request (sesuai permintaan). Para hunk menjaga stand-nya hampir tanpa kostum (hanya menutup bagian depan selangkangan saja) dan terkadang beradegan komikal. Oh, juga ada stand tatoo, waxing, pijat, penjual seprei dan peramal. Tentu saja sebagian besar stand dijaga oleh wanita atau pria muda berpakaian seksi, bahkan ada yang tidak berpakaian sama sekali!





Selain stand komersil dalam pameran ini juga ada panggung utama yang setiap jam berisi pertunjukan gratisan. Dari hipnotis, striptease, pole dancing, kabaret dan tarian berkelompok laki-laki dan perempuan. Dalam 2 jam saya hanya sempat menonton 2 macam. Dan jujur saya cukup terhibur karena beberapa bagian memang dibuat untuk memancing tawa penonton. Berseberangan dengan panggung utama terdapat satu kubikel besar yang dijadikan ruang seminar seksologi, juga gratis. Saya sempat mendengarkan sedikit, lumayan padat informasi dan pendidikan. Benar-benar tidak disangka. Selain yang gratisan, juga ada beberapa bagian yang tidak gratis alias harus bayar lagi. Foto bersama bintang porno dari Amerika, Laporium (entah apa maksudnya), bermain games (naik kuda-kudaan, adu kekuatan, memasukkan barang ke dalam lubang), dan After Party session.



SEXPO berlangsung selama 4 hari. Entah karena saya datang di hari Minggu sekaligus hari terakhir rasanya pameran ini begitu diminati karena padatnya pengunjung. Sebagian besar pengunjung adalah pasangan muda dan banyak yang datang berkelompok. Namun juga saya temui kelompok ibu maupun bapak mungkin berumur di atas 50 tahun juga pasangan kakek nenek. Tidak ada jaminan kalau pengunjung ini memenuhi syarat yang tercantum yaitu 18 tahun ke atas. Soalnya saat membeli tiket tidak diminta ID card sama sekali. Padahal dengan banyaknya pemandangan amat sangat dewasa di sana, kontrol pengunjung sangat perlu. Meskipun Australia bukan negara berdasar Pancasila seperti Indonesia, menurut saya bentuk pornografi, apalagi untuk remaja dimanapun dampaknya bisa amat buruk.



Secara umum Sexpo ini cukup informatif dan memberikan gambaran budaya seksual di negara kangguru ini yang cukup terbuka. Sedikit edukatif dengan jadwal seminar yang beragam dengan narasumber terpandang. Amat sangat komersil karena banyaknya produk yang diekspos (juga laku keras!). Saya? senang juga datang ke pameran ini karena tidak lagi penasaran dan cukup puas membawa pulang goodie bag gratisan berupa 2 buah majalah dewasa yang dibagikan di pintu keluar. Ada yang mau?





note: tulisan ini (tanpa foto) terpilih menjadi Headline Reportase di Kompasiana edisi 30/5/2011.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aturan Imigrasi Thailand Untuk Long Term Stay

Itinerary : Kuala Lumpur - short term 3D2N or 2D1N

Siapkan ‘Amunisi’ Menghadapi Taksi di Kuala Lumpur